Saya berlari dan kamu tak pernah ada. Lagi kamu menghilang bersama angin yang berdesis di telinga. Saya berlari dan kamu terbang. Suara burung tak mampu membawa mu kembali. Saya memilih menunggu dalam gelap.
Hampir sepanjang masa saya menunggu dan saya bosan dengan keadaan. Saya mencari keluar dan kamu tetap tak ada.
Malam ini pecah semua perasaan. Tangis mu dalam dekapannya, penantianku dalam kemarahan. Temaram. Kaki melangkah tak tau arah mencari jawaban semua penantian. Dan kamu bertanya tentang perasaan yang salah tapi di inginkan.
Kau mencariku di persembunyian. Menyuruhku pergi dalam kebebasan, kebahagiaan yang kau sebut itu pengorbanan.
“Cari saja yang lain”
“Tidak bisa seprti dulu?”
“Masih banyak yang lebih baik”
“Mimpi kita sudah berakhir”
Tangis..Tangis..Tangis..Tangis..
Saya masih tak mau menyerah dengan kondisi dan situasi. Dan kau terus menangis menyuruh ku pergi sedangkan tangan ini kau genggam erat, tubuh ini kau peluk dekat, dan perasaan ini masih melekat.
“Mimpi ini masih bertahan, cobalah berubah, karena masih ada waktu”
“Takut”
“Tak perlu takut, semua memang sulit”
“butuh waktu”
“ya butuh waktu untuk sendiri”
Kecupan yang telah lama tersimpan, mesra dan menghanyutkan.
Matahari merasuk melalui celah-celah jendela dan pintu. Harapan baru terlintas dalam kegamangan. Biar berjalan perlahan. Sepertinya pagi baru datang kali ini saat semangat mulai muncul. Rencana sudah matang untuk hari ini, tapi bulan enggan untuk terbenam, hari ini pun sama seperti malam sebelumnya.
Saya pikir mudah melakukan ini, seperti mengucapkan. Perasaan yang ada hanya kesepian, tapi saya terus yakin bahwa surga membentang di balik semua penantian. Seorang teman berkata bahwa kesendirian akan membuat saya lebih baik setidaknya kita bisa merasakan kebebasaan.
“genap, aku rasa semua sudah genap”
“tolong jangan”
“jangan apa?”
“jangan tinggalin aku”
Kupu-kupu tak akan terbang bila dia enggan untuk terbang, bintang-bintak tak kan pernah bersinar bila selalu siang, matahari kita pasti akan terbenam, tapi belum tentu terbit akan mengulang.
No comments:
Post a Comment